LOMBA PEKERJA KONSTRUKSI / TUKANG TINGKAT PROVINSI 2017

Standard

Arsitektur Universitas Lampung kembali mencatatkan sebuah prestasi di tingkat Provinsi. Kali Lomba yang diikuti adalah Lomba Pekerja Konstruksi / Tukang Tingkat Provinsi yang mengambil Judul : “Bangun Negeri dengan Peduli Pekerja Konstruksi”.

Lomba yang dilaksanakan oleh Pemerintah Provinsi Melalui Dinas Pekerjaan Umum & Penataan Ruang yang bekerjasama dengan (Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi) LPJK, Perkumpulan Paguyuban Tukang Konstruksi Indonesia (PPTKI) yang ikut di dukung oleh Conch ini dilaksanakan selama 3 Hari yaitu mulai 30 Oktober hingga 1 November 2017. Kedalaman materi seperti Tes Tertulis, Studi Kasus, dan wawancara tentang pelaksana bangunan menjadi fokus dalam pelaksanaan Lomba kali ini.

Adapun peserta yang berhasil memenangkan Lomba pada ajang tersebut di dominasi oleh Mahasiswa yang saat ini tengah menyelesaikan Tugas Akhir di Program Studi D3 Arsitektur Unila.

Pemenang tersebut antara Lain :

  1. Pranata Risna (Juara II)
  2. Yono Irawan (Juara III)
  3. Didik Budi Santoso (Juara Harapan I)
  4. Adi Kurniawan (Juara Harapan II)

Sebagai pendidikan tinggi yang memiliki Program Vokasi, kegiatan ini menjadi sebuah acara yang sangat baik untuk dapat menjadi barometer dan evaluasi dalam memberikan semangat kepada seluruh Civitas Akademis terutama Mahasiswa untuk terus berkompetisi dalam menghadapi dunia Professional.

Advertisements

FORMULIR PENDAFTARAN TUGAS AKHIR (TA) PERIODE 2017-2018

Standard

Pelaksnaan Tugas Akhir (TA) Bagi Mahasiswa D3 Arsitektur Bangunan Gedung Universitas Lampung, Periode 2017-2018 akan dilaksanakan pada awal November 2017. Tentunya terdapat beberapa persyaratan yang harus di penuhi dalam mengikuti pelaksnaan Tugas Akhir tersebut.

Adapun beberapa persyaratan untuk mendaftar Tugas Akhir ini antara lain :

  1. Telah dinyatakan lulus untuk semua Mata Kuliah yang diambil pada Prodi D3 Arsitektur Bangunan Gedung
  2. Kecuali KP, telah lebih dulu selesai Seminar KP
  3. Melampirkan Surat Rekomendasi Pembimbing Akademik. yang telah di tandatangani.
  4. Melampirkan Kartu kehadiran mengikuti Seminar KP.
  5. Melampirkan Absensi Kehadiran Peserta saat Seminar KP dilaksnakan.
  6. Melampirkan Slip UKT Terakhir.
  7. Melampirkan Transkrip yang di keluarkan oleh TU Dekanat Fakultas Teknik.

Lampiran diatas di scan (asli) dan diunggah melalui Lampiran yang ada di Formulir Online dan Fisik di kumpulkan kepada Mba Linda.

**Bagi yang belum melaksanakan seminar hingga 31 Oktober 2017, dapat mengunggah Surat Keterangan Akan Melaksanakan Seminar KP yang di tandatangani oleh Pembimbing dan di ketahui oleh Ka. Prodi. dan diunggah sebelum pendaftaran di tutup.

Pendaftaran ini di tutup pada Selasa, 31 Oktober 2017, Pukul. 24.00

ISI FORMULIR

Faculty of Built Environment, University of Malaya

Standard

Hari ke dua dalam kegiatan KKL Malaysia ini, seluruh mahasiswa dan dosen yang di dampingi langsung oleh Kaprodi Arsitektur Unila disambut langsung oleh pihak Fakultas Alam Bina (Alam Bina Faculty) Universitas Malaya, Bpk. Prof. DR. Yahya Ahmad D.J.N. (PP). Sebagai Dekan Fakultas.

Dalam kunjungan ini dibahas mengenai beberapa hal yang menyangkut informasi keberadaan Fakultas, kurikulum dan beberapa hal penting lainnya.

Signboard on Loby

20170919_131436.jpg

DR. Muhammad Azzam Ismail

 

20170919_131910.jpg

Stadium General

20170919_145611

Bincang

 

20170919_150833.jpg

Berkunjung ke Studio Gambar

20170919_131614.jpg

Serah Terima Cindera Mata Arsitek Unila ke FAculty of Built Environment Malaya

 

20170919_131211.jpg

Serah Terima Cendera Mata dari Faculty of Built Environtment Ke Arsitektur Unila

 

20170919_125034~2.jpg

Foto Bersama

 

Tipe Pemimpin Masa Depan di Kampus

Standard

Saya mencoba untuk mengklasifikasikan calon ketua berdasarkan kepentingan politik dari para calon ketua umum Himpunan Mahasiswa Jurusan atau HMJ menjadi dua. Pertama merujuk kepada asumsi bahwa politik adalah KEKUASAAN. Dalam hal ini, perilaku politik mahasiswa yang berkenaan dengan pemilihan itu merupakan salah satu upaya mahasiswa untuk memperoleh kekuasaan. Kedua merujuk kepada kekuasaan dimaknai sebagai sarana untuk melakukan perubahan.

Pada klasifikasi yang pertama, mahasiswa yang mencalonkan diri untuk menjadi Ketua HMJ adalah mahasiswa yang ada maunya dan ditunggangi oleh kepentingan politik suatu golongan. Mahasiswa tersebut hanya mementingkan kepentingan dari suatu kaum atau golongan untuk memperoleh kekuasaan, padahal kekuasaan yang ingin ia peroleh hanya karena doktrin dari pendahulu. Tipe calon pemimpin yang seperti ini menurut Lord Acton akan menimbulkan peluang untuk bertindak korup. “Power tends to corrupt, but absolute power corrupts absolutely”.

Sedangkan pada klasifikasi yang kedua yaitu merujuk kepada kekuasaan yang dimaknai sebagai sarana untuk melakukan perubahan. Tipe pemimpin yang seperti ini sudah mempunyai agenda dan perencanaan yang matang dari jauh-jauh hari, ia belajar dari pengalaman. Kemudian dari pengalaman itu ia evaluasi, sehingga ia dapat mengetahui kesalahan-kesalahan apa saja yang telah terjadi. Setelah itu ia akan memastikan bawha kesalahan itu tidak akan terulang pada masa kepemimpinannya mendatang. Ia tidak pernah merasa ditunggangi oleh suatu golongan yang memiliki kepentingan tertentu, sehingga ia dengan bebas dapat mengambil keputusan yang bermanfaat bagi masyarakatnya secara tegas. Dengan demikian, tipe pemimpin seperti ini akan membawa perubahan dan dampak yang positif terhadap suatu organisasi. Melalui rancangan-rancangan program kerja yang telah ia buat untuk melakukan perubahan.

Salah satu modal utama untuk menjadi calon pemimpin adalah KOMITMEN. Dalam hal ini adalah janji yang telah ia ucapkan. Saya berasumsi bahwa “Mulutmu adalah Harimau mu”, maksudnya adalah Jika suatu perjanjian yang telah disepakati bersama itu dilanggar, maka pemimpin tersebut 0. Ia tidak memiliki komitmen yang baik. Jika hal ini sudah tercermin sejak dini, maka niscaya ia tidak akan tenang apabila ia memang terpilih menjadi ketua HMJ.

Mahasiswa tidak harus selalu menjadi aktor politik. Mahasiswa dapat terlibat proses politik melalui partisipasi politik. Itulah keikutsertaan mahasiswa dalam berbagai proses politik, yang tak hanya berarti mendukung keputusan atau kebijakan, tetapi juga terlibat dalam segala tahap kebijakan, dari pembuatan dan penilaian keputusan, hingga ikut serta dalam pelaksanaan keputusan.

Sebuah catatan dalam keinginan untuk melangkah lebih baik.

Arsitektur Unila